Tafsir Tarbawi

Nama: Sitti Munawwarah

Prodi : PBA 1

Nim/Semester : 18133015/ V

Matkul : Tafsir Dan Tafsir Tarbawi


Rangkuman Tujuan Pendidikan Dalam Al-Qur'an


1. Terwujudnya Hamba Yang Mengabdi Pada Allah ('abd)

Rumusan terwujudnya Hamba yang mengabdi kepada Allah ('abd), sebagai salah satu tujuan pendidikan Islam, sepintas seperti rumusan tujuan hidup manusia. Akan tetapi tidak dapat di pungkiri bahwa merumuskan tujuan pendidikan harus harus berorientasi pada tujuan hidup ini. Terdapat dalam Al-Qur'an beberapa surah; 

a. Qur'an surah adz-Dzariyat ayat 56 ; 

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku". 

b. Qur'an surah Al-Anbiyah ayat 25 ;

لااله الاانافاعبدون

Artinya: "Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak di sembah) selain Aku, maka sembahlah Aku".

Kedua ayat di atas dengan sangat tegas menjelaskan bahwa untuk beribadahlah tujuan jin dan manusia diciptakan. Ibadah pada ayat di atas bukan sekedar aktivitas ritual keagamaan seperti sholat, haji, zakat dan ibadah mahdhah lainnya, tetapi segala aktivitas yang dilakukan dalam rangka ibtigha’mardhatilah/mencari ridha Allah. Perbuatan ibadah madhah seperti sholat, puasa, zakat dan haji belum memenuhi prinsip ibadah jika dilakukan tanpa kesadaran total yang tersimbolkan dalam niat serta sikap penghambaan dan ketundukan kepada perintah Allah.

Bila demikian halnya, maka sesungguhnya ibadah itu bukan bentuk lahirnya, banyak perkara dunia yang berubah menjadi amal dunia karena niat. Sebaliknya boleh jadi suatu ritual agama tidak bernilai ibadah bila dilakukan bukan karena Allah, tetapi untuk riya misalnya. Dengan demikian niat sebagai simbol kesadaran dan ketundukan merupakan standar prodedur perbuatan yang menentukan apakah suatu perbuatan bernilai ibadah atau tidak. 

Dengan demikian dapat dipahami bahwa tujuan hidup seorang hamba adalah untuk mengabdi kepada Allah. Dengan kata lain bahwa tujuan pendidikan islam harus selaras dengan pandangan hidup seorang muslim yaitu “merealisasikan pengabdian pada Allah swt. Dalam kehidupan manusia, baik secara individu ataupun kelompok.


2. Mempersiapkan Individu untuk menjadi Khalifah (pemimpin) 

a. Qur'an surah Al-Baqarah ayat 30 ; 


وَاِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلٰٓٮِٕكَةِ اِنِّىۡ جَاعِلٌ فِى الۡاَرۡضِ خَلِيۡفَةً ؕ قَالُوۡٓا اَتَجۡعَلُ فِيۡهَا مَنۡ يُّفۡسِدُ فِيۡهَا وَيَسۡفِكُ الدِّمَآءَۚ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ‌ؕ قَالَ اِنِّىۡٓ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ

Artinya: "Dan (ingatlah)Ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Aku hendak menjadikan khalifah di bumi." Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

b. Qur'an surah Shaad ayat 26 ;

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلْنَٰكَ خَلِيفَةً فِى ٱلْأَرْضِ فَٱحْكُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ بِٱلْحَقِّ

Artinya: "Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil."

c. Qur'an surah Faatir ayat 39 ;

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَكُمْ خَلٰۤىِٕفَ فِى الْاَرْضِۗ فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهٗۗ

Artinya: "Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi. Barangsiapa kafir, maka (akibat) kekafirannya akan menimpa dirinya sendiri."

d. Qur'an surah Yunus ayat 14 ; 

ثُمَّ جَعَلۡنٰكُمۡ خَلٰٓٮِٕفَ فِى الۡاَرۡضِ مِنۡۢ بَعۡدِهِمۡ لِنَـنۡظُرَ كَيۡفَ تَعۡمَلُوۡنَ

Artinya: "Kemudian Kami jadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (mereka) di bumi setelah mereka, untuk Kami lihat bagaimana kamu berbuat." 

e. Qur'an surah Yunus ayat 73 ; 

وَجَعَلۡنٰهُمۡ خَلٰٓٮِٕفَ وَاَغۡرَقۡنَا الَّذِيۡنَ كَذَّبُوۡا بِاٰيٰتِنَا

Artinya: "Dan Kami jadikan mereka itu khalifah dan Kami tenggelamkan orang yang mendustakan ayat-ayat Kami."

f. Qur'an surah Al-An'am ayat 165 ; 

وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَكُمْ خَلٰۤىِٕفَ الْاَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْۗ

Artinya: "Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia mengangkat (derajat) sebagian kamu di atas yang lain, untuk mengujimu atas (karunia) yang diberikan-Nya kepadamu."

g. Qur'an surah al-A'raf ayat 69 ; 

وَاذْكُرُوْٓا اِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاۤءَ مِنْۢ بَعْدِ قَوْمِ نُوْحٍ وَّزَادَكُمْ فِى الْخَلْقِ بَصْۣطَةً ۚ

Artinya: "Ingatlah ketika Dia menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah setelah kaum Nuh, dan Dia lebihkan kamu dalam kekuatan tubuh dan perawakan."

Beberapa ayat di atas menjelaskan tentang Khalifah, dimana Khalifah adalah pengganti. Oleh karena itu, manusia berfungsi sebagai pengganti Allah di muka bumi. Konsekuensi logisnya bahwa manusia harus bisa berfungsi sebagai "perpanjangan tangan-Nya". Hal ini bukan karena Allah tidak mampu, atau menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan, namun Allah bermaksud menguji dan memberikan penghormatan kepada manusia. 

Khalifah disini juga sebagai orang yang diberi amanah oleh Allah untuk memimpin, mengelola, dan memanfaatkan guna mendatangkan kemaslahatan bagi manusia. Khalifah pada ayat-ayat diatas tidak hanya ditujukan untuk Nabi Adam as. atau nabi-nabi tertentu sebagaimana dalam teks ayat. Namun kata Khalifah juga untuk kaum-kaum sesudah mereka dan pada generasi yang berbeda. Ini berarti kekhalifahan merupakan wewenang yang dilimpahkan Allah kepada nabi Adam As dan seluruh manusia. Agar manusia dapat melaksanakan amanah dan fungsinya sebagai Khalifah secara maksimal. Maka manusia pun dibekali dengan potensi yang menopang untuk terwujudnya peran sebagai Khalifah tersebut. Melalui pendidikan, setiap potensi yang dianugerahkan oleh Allah Swt, dikembangkan secara maksimal sehingga pendidikan merupakan suatu proses yang sangat penting tidak hanya dalam pengembangan kecerdasan, namun juga untuk membawa manusia pada tingkat manusiawi dan peradaban, terutama pada zaman modern dengan berbagai kompleksitas yang ada.

3. Membina dan menumpuk Akhlakul Karimah

Tujuan pendidikan Islam, yaitu untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran (intelektual), diri manusia yang rasional, perasaan dan indra. Karena itu, pendidikan hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik, aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah dan bahasa, baik secara individual maupun kolektit, dan mendorong semua aspek tersebut berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir pendidikan muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah SWT, baiksecara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia.

Terdapat dalam Al-Qur'an ada dua surah yaitu ;

a. Qur'an surah al-Qalam ayat 4 ;

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيۡمٍ

Artinya: "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur." 

b. Qur'an surah al-Syu'ara' ayat 137 ;

إِنْ هَٰذَآ إِلَّا خُلُقُ ٱلْأَوَّلِينَ 

Artinya: " Ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu." 

Secara etimologi, akhlak adalah bentuk jamak dari kata khuluqun atau khuqun yang berarti agama, tabiat dan perangai. Ibnu Mandzur menjelaskan bahwa hakikat makna khuluq adalah gambaran batin manusia yaitu jiwa dan sifat-sifatnya.

Secara istilah akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa paksaan atau tekanan dari luar.

Akhlak atau budi pekerti yang mulia merupakan asas yang paling kuat untuk melahirkan manusia yang berhati bersih, ikhlas dalam hidup, amanah dalam tugas, cinta kepada kebaikan dan benci kepada kejahatan. Selain itu akhlak juga dalam pelaksanaannya tidak hanya mengatur hubungan horizontal antara sesame manusia, akan tetapi juga mengatur hubungan vertical antara manusia dengan Allah.

4. Untuk mencapai kebahagiaan Dunia Akhirat

Tujuan pendidikan dirancang agar dapat merangkum tujuan hidup manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yaitu keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Di antara ayat-ayat yang menyatakan hal ini adalah:

a. Qur'an surah Al-Baqarah ayat 200 ;

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

Artinya: "Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat". 

b. Qur'an surah Al-Baqarah ayat 201 ;


وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: "Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka".

Doa yang selalu dimohonkan oleh setiap muslim pada ayat di atas, bukanlah segala kesenangan duni, tetapi segala yang bersifat hasanah, yaitu yang baik, bahkan bukan hanya kebaikan di dunia akan tetapi juga memohon kebaikan di akhirat. Kebaikan pada ayat di atas menurut Quraish Shihab bukan hanya dalam arti iman yang kukuh, kesehatan, rezeki yang memuaskan, pasangan yang ideal dan anak-anak yang saleh, tetapi segala yang menyenangkan di dunia dan berakibat menyenagkan di akhirat. 

5. Mempersiapkan manusia yang kuat secara fisik

Ibadah dalam islam tidak hanya nmerupakan aktivitas ruh, namun ibadah merupakan aktivitas ruh dan juga fisik. Bahkan sebagian ibadah dalam islam tidak dapat dilakukan tanpa kekuatan fisik, ibadah haji misalnya, hampir semua ibadah haji dilakukan dengan fisik, tawaf, sa’I, melempar jumrah,n wukuf dan lain sebagian memerlukan fisik yang prima untuk dapat melakukan secara sempurna. Oleh karena itu mempersiapkan peserta didik yang kuat secara fisik merupakan tujuan pendidikan islam. Ayat-ayat yang membahas tentang hal ini adalah: 

a. Qur'an surah An-nisa ayat 9 ;


وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Artinya: "Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar". 

b. Qur'an surah Al-Baqarah ayat 246 ;

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ٱللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوٓا۟ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ ٱلْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِٱلْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ ٱلْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُۥ بَسْطَةً فِى ٱلْعِلْمِ وَٱلْجِسْمِ ۖ وَٱللَّهُ يُؤْتِى مُلْكَهُۥ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya: "Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu". Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa". Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui".

Ayat ini menerangkan mengenai kisah pengangkatan Thalut sebagai raja Bani Israil. Allah menceritakan kisah ini dengan sangat indah, dimana orang yang berpendidikan dan mempunyai fisik kuatlah yang pantas menjadi pemimpin dan melaksanakan titah sebagai khalifah.

Dari ayat ini diambil pengertian bahwa seorang yang akan dijadikan raja atau pemimpin hendaklah memiliki kriteria sebagai berikut:

1.) Memiliki kekuatan fisik sehingga mampu untuk melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin.

2.) Memiliki ilmu pengetahuan yang luas, sehingga dapat memimpinnya dangan penuh kebijaksanaan.

c. Qur'an surah al-Qashas ayat 26 ;

قَالَتْ اِحْدٰىهُمَا يٰٓاَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖاِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ

Artinya: Salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, "Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya."

Pengertian kuat di sini adalah kekuatan dari berbagai aspekdan bidang. Oleh karena itu terlebih dahula harus dilihat bidang apa yang ditugaskan kepada yang dipilih. Sedangkan kepercayaan tersebut di atas yang dimaksud adalah integritas pribadi dari orang yang diberi amanat.

Qowwiyul Jismi/kekuatan jasmani merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga seorang muslim dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya. Karena itu kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Karena kekuatan jasmani juga sangat penting, maka sebuah atsar sahabat Umar bin Khattab saat memerintahkan penduduk Syam agar mengajari anak mereka memanah, berenang dan mengendarai kuda. 



 

Komentar